Selasa, 10 November 2015


JILBABKU DAN CADARKU TANDA KETAATANKU PADA ALLAH..
Jilbab adalah kehormatanku, cadar adalah harga diriku, jika aku tak mengenakannya karena takut dibenci, maka sungguh aku adalah seorang yang pecundang, karena suka dan benci, adalah sesuatu yang mesti dan tak terelakkan di dunia ini.
Jilbab adalah jiwaku, dan cadar adalah sukmaku, keduanya kan selalu menutup diriku, karena itu adalah jiwaku, jika kuberani menanggalkannya, maka kutak jauh beda dengan jasad tanpa jiwa.
Sudah terlalu banyak muslimah yang rela dicela karena jilbab dan cadarnya, bahkan di antara mereka, sudah ada yang mati dan dipermalukan oleh orang sekelilingnya, jika sudah ada orang yang pernah mengalaminya demi sebuah kemuliaan, maka mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Padahal mati itu sesuatu yang pasti, dan lebih baik mati mulia dengan jilbab selalu bersama, daripada mati sebagai pecundang hanya mencari ridho manusia.


Walau-wajah menaruh murka dan iri, karena jilbab dan cadar yang menjadi jati diri, maka kutidak peduli dengan wajah-wajah manusia itu, karena wajah-wajah manusia penuh dengan kepalsuan dan kehinaan, dan hanya wajah Allah jua yang menjadi dambaan hati sebagai simbol kemuliaan dan kesucian hati.
Susah dan sulit memang, dan bahkan panas menyilimuti diri, karena jilbab dan cadar pada diri, tapi sebagai musafir sejati, sebagai manusia hakiki, tidak pernah lari dari kesulitan dan kesukaran, karena memang dunia adalah tempatnya sulit dan lapang, dan tidak ada satu orang pun yang dapat lari darinya, maka jika kumenghindari jilbab dan cadar biar hidup terasa nyaman, maka sungguh aku hinanya manusia, karena mengharapkan nyaman di dunia, padahal kenyamanan hanya ada dalam iman dan kan dibalas dengan surga.
Sakit memang dihina dan dicela karena jilbab dan cadar, tapi rasa sakit, susah, derita dan sulit itu, kan berubah menjadi manis karena istiqomah yang membaja. Karena muslim sejati, sadar, bahwa kebahagiaan ada dalam keataatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar